ANEUKDOT-ANEUKDOT (CERITA LUCU)

Seorang wartawan bertanya kepada kepada seorang petinggi GAM. “Bapak telah melanggar Undang-undang tentang tidak bolehnya ada negara dalam negara ini di dalam republik ini. Apalagi negara kecil.”

“Sayang, saya tidak diundang ketika Undang-undang itu dibuat,” jawab panglima GAM itu berkelit.

“Kalau semisalnya diundang, apa pernyataan Bapak?” tanya wartawan itu tak menyerah.

“Saya akan katakan, GAM punya cita-cita mendirikan negara besar, bukan negara kecil. Kalau begitu, bukan negara dalam negara. Tetapi kita jadi negara tetangga,” jawab panglima GAM.

Tuna Rungu
Sejak kecil, Polem punya masalah dengan pendengaran. Ia bisa disebut sebagai tuna rungu. Semua orang sekampung telah mengetahuinya. Namun, karena sedang dalam masa darurat militer, orang-orang kampung menasihati Polem agar hati-hati bila mencari kayu di hutan. Sebab, tak jarang mereka akan kepergok patroli TNI dan bisa menimbulkan salah paham bila nanti Polem ditanya.

Tetapi, Pak Geuchik yang bijak memberikan trik-trik khusus kepada Polem.

Kata Pak Geuchik, pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh aparat bila ketemu warga sipil pasti; “kamu mau ke mana!”

Tentu saja Polem tidak akan mendengar pertanyaan itu. Tetapi asal ada yang buka mulut, jawabannya harus: “Mencari kayu, Pak…”

Lalu, kata Pak Geuchik, pertanyaan kedua biasanya adalah; “Kamu ada lihat GAM?”

Maka Polem harus menjawab, “Tidak ada lihat, Pak…” (maksudnya tidak lihat/tidak tahu)

Tapi dasar Polem tuna rungu, dia pun tidak menangkap sepenuhnya trik yang diberikan Pak Geuchik kepadanya. Yang “didengar” Polem adalah; “Apa Bapak tidak lihat?”

Suatu hari, berangkatlah Polem ke hutan untuk mencari kayu. Benar saja, di tengah jalan, dia bertemu dengan sepasukan TNI yang sedang patroli.

“Hei, kamu! Berhenti! Kamu mau ke mana?”

Melihat gerakan bibir para serdadu itu, Polem langsung teringat jawaban pertama; “Mencari kayu, Pak…”

“Kamu ada lihat GAM?”

Polem pun langsung menjawab dengan kalimat kedua; “Apa Bapak tidak lihat?”

dan… Buk! Buk! Buk!

Tentu saja para serdadu dari Jakarta itu menafsirkan kalimat Polem sebagai tantangan yang biasanya berbunyi begini: “Apa Bapak tidak lihat? (Ya, saya ini GAM-nya!”) [A]

Tarif Toilet
Polem, asal Pidie, baru tiba di Jakarta. Di terminal Pulo Gadung, ia masuk sebuah toilet hendak buang air besar. Dan di sana, tertulis tarif;

Buang Air Kecil Rp 500

Buang Air Besar Rp 1.000

Mandi Rp 1.500

Setelah selesai, Polem pun membayar Rp 1.000 sambil menggerutu. Tapi penjaga di toilet itu protes, “Anda harus bayar Rp 1.500.”

“Lho, saya kan buang air besar. Di situ tertulis Rp 1.000.”

“Tidak mungkin. Tadi sambil buang air besar, Anda buang air kecil juga kan?”

Polem pun memberikan lagi Rp 500 sambil menggerutu di dalam hati, “Nanti kalau Aceh sudah m…..a, saya buat toilet gratis!”

Mahasiswa dan Brimob
Seorang nenek, seorang gadis cantik, seorang mahasiswa dan seorang anggota Brimob duduk saling berhadap-hadapan di dalam sebuah kereta.

Gadis itu sangat cantik dan seksi. Beberapa kali, mahasiswa dan anggota Brimob itu mencuri pandang. Dan sebanyak itu pula, ulah mereka kepergok oleh si nenek. Sementara gadis itu, cuek bebek.

Tak lama kemudian, kereta api itu pun memasuki terowongan. Dasar kereta api Indonesia, pas masuk terowongan, lampunya ternyata padam. Jadilah gelap gulita.

Tiba-tiba terdengar suara ciuman, “Cup… cup.. cup…”

“Plak! Plak! Plak!”

Keempat orang itupun, berbicara di dalam hati masing-masing:

Si nenek: “Rasain, ditampar! Pasti salah seorang laki-laki ini mencium gadis itu dan akhirnya ditampar!”

Si gadis: “Hihihi…. maunya cium aku, eh… malah nyasar ke nenek-nenek di sebelah. Ditampar lagi. Hihihi… biar mampus, salah satu dari laki-laki sialan ini!”

Si Brimob: “Brengsek, mahasiswa ini yang cium, aku yang ditampar!”

Si Mahasiswa: “Hehehe… kena kau Pak Brimob! Padahal aku cium tanganku sendiri, lalu kutampar kau. Hehehe…. Kapan lagi nampar Brimob….”

Pabrik Es
Seorang gubernur daerah konflik yang tak pernah turun ke lapangan tanpa protokoler, suatu hari meresmikan sebuah pabrik. Selama pidato, gubernur itu didampingi oleh para ajudannya.

“Dengan ini, saya resmikan pabrik stainless teel…”

Mendengar steel dibaca teel, sang ajudanpun, segera meralat dengan membisikkan sesuatu kepada sang gubernur, “Pak, kurang S-nya…”

Tanpa pikir panjang, gubernur langsung menyambar, “Oh, ya, dan saya resmikan juga pabrik Es…”

Pacaran
Polem dan Maneh sedang berpacaran.

Maneh: “Bang Polem, apa kita akan sehidup semati?”

Polem: “Tentu saja.”

Maneh: “Kalau aku menangis…”

Polem: “Abang ikut menangis.”

Maneh: “Kalau aku tertawa…”

Polem: “Abang juga ikut tertawa.”

Maneh: “Kalau aku lompat dari gedung tinggi…”

Polem: “Abang lihat sebentar ke bawah, lalu meneruskan tertawa.” [A]

Cinta Ditolak

Polem naksir berat dengan Maneh. Dia pun mengirim sebuah SMS ke HP Maneh. Dasar seniman, Polem pun mengirim kalimat-kalimat sastrawi dan filosofi.

SMS Polem: “Kita ditakdirkan seperti Adam dan Hawa. Menjalin kasih dalam rupa kesempurnaan ciptaan Tuhan.”

SMS Maneh: “Kalau Adam dan Hawa memang diciptakan dengan wajah sempurna, mengapa begitu banyak manusia yang berwajah seperti yang membaca SMS ini?” [A]

Puk Ami Ami

Polem: “Binatang apa yang paling sehat?”

Maneh: “Gadjah!”

Polem: “Salah.”

Maneh: “Apa, dong?”

Polem: “Binatang paling sehat adalah belalang dan kupu-kupu. Sebab, kalau siang makan nasi, kalau malam minum susu.” [A]

Sepasang Sepatu
Setelah ledakan bom laknat di malam tahun baru di Peureulak, seorang pasien harus menerima kenyataan, sepasang kakinya akan diamputasi.

Tetapi dokter masih berusaha menghibur sang pasien.

“Saya punya dua kabar. Kabar baik dan kabar buruk. Anda mau dengar yang mana dulu?”

“Saya mau dengar yang buruk dulu, Dok…”

“Baiklah. Dua jam lagi, kedua kaki Anda akan kami amputasi. Anda akan cacat seumur hidup.”

“Lalu kabar baiknya?”

“Ada orang yang berani membayar mahal untuk sepasang sepatu Anda…” [A]

Model Ukiran Sunat
Polem (Aceh), Bejo (Jawa) dan Ketut (Bali) membangga-banggakan daerahnya masing-masing.

Polem: “Di Aceh, semua lelaki wajib sunat. Dan kami pantang menangis ketika disunat! Ada yang disunat pakai rencong!”

Bejo: “Ah, itu sih biasa. Di Jawa, anak-anak yang baru disunat langsung bisa lari dan main layang-layang! Padahal sunatnya pakai keris. Kan sakit tuh!”

Ketut: “Sudah lah. Kalian semua tak ada apa-apanya dibanding di Bali. Di Pulau Dewata yang terkenal dengan seninya itu, anak-anak kecil boleh pesan model ukiran apa saja ketika mereka disunat.” [A]

Hamil Karena Aparat
Maneh yang asal Aceh telah diperistri oleh Poltak dari Medan. Setelah dua tahun menikah, barulah Maneh hamil. Tentu saja ibu Maneh yang asal Meulaboh senang bukan kepalang dan datang berkunjung ke Medan.

“Akhirnya, kau hamil juga, Nak. Mungkin selama ini Poltak terlalu sibuk, ya…” kata ibu Maneh.

“Iya, Mak. Tapi ini juga karena aparat,” jawab Maneh.

“Lho! Kok bisa!” ibu Maneh terlonjak. Berpikir bahwa anaknya telah dihamili seorang aparat.

“Sekarang mereka rajin sweeping preman di Medan. Makanya Bang Poltak betah di rumah.”


Otak Bayi
Polem dan Noni yang keturunan Cina itu akhirnya menikah. Tak lama kemudian, Noni melahirkan bayi pertama mereka. Bayinya cakep. Tetapi yang mengejutkan, bayi itu ternyata langsung bisa bicara.

“Saya ingin jadi profesor. Saya ingin jadi profesor!” kata si bayi beberapa detik setelah keluar dari rahim Noni.

Dokter yang menangani kasus ini tentu saja heran bukan kepalang. Setelah berkonsultasi dengan rekan seprofesinya, dokter langsung melakukan operasi pengurangan volume otak.

“Maksud dokter, otak anak saya dioperasi?” tanya Polem gusar.

“Betul, Pak. Anak bapak kelebihan volume otak. Makanya pintarnya terlalu cepat. Harus dikurangi.”

Operasi pun dilakukan. Setelah operasi, ternyata bayi Polem masih bisa berbicara; “Saya ingin jadi wartawan, saya ingin jadi wartawan.”

“Nah, Pak Polem, kendati belum berhasil, tetapi cita-citanya sudah turun. Semula ingin jadi professor, sekarang cukup jadi wartawan,” terang dokter.

“Dokter mengurangi volume otak anak saya berapa banyak?” tanya Polem

“Kurang lebih 50%.” jawab dokter.

Karena masih berbicara dan menimbulkan keanehan, maka bayi itu pun dioperasi lagi dan dikurangi volume otaknya, hingga tinggal 10% saja.

Setelah selesai, bayi itu pun masih berbicara. Tetapi kali ini teriakannya lain; “Ayo, tunjukkan KTP Merah Putih kalian!” [A]

Lalat di Cangkir Kopi

Di sebuah negeri anta berantah, suatu sore, seorang dokter, seorang aktivis lingkungan, seorang mahasiswa dan seorang tentara sedang duduk di warung kopi. Jika seekor lalat masuk ke cangkir kopi mereka, apa yang akan terjadi?

Dokter: Kopi dan cangkirnya dibuang, lalu dia mengganti dengan yang baru.

Aktivis Lingkungan: Lalat diambil, dikeringkan, lalu dilepas (bila masih hidup). Kopinya, tetap diminum.

Mahasiswa: Kopi diminum hingga lalat masuk dalam mulut, lalu sang lalat dimuntahkan sambil meludah.

Tentara:

1. Membentak pemilik warung dan memerintahkannya mengganti dengan kopi baru.

2. Menuduh mahasiswa telah dengan sengaja memasukkan lalat dalam cangkir kopinya.

3. Meminta dokter segera memeriksa kesehatannya.

4. Menangkap aktivis lingkungan atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan, karena telah membiarkan lingkungan sekitar warung kotor sehingga banyak lalat.

5. Mengumpulkan warga desa baik tua muda atau lelaki dan perempuan untuk melakukan wajib kerja bakti membersihkan lingkungan.

6. Menggelar konferensi pers dan meminta wartawan menulis bahwa tentara dibantu masyarakat telah membersihkan kampung tersebut dari lalat.

7. Membentuk organisasi sipil untuk memastikan bahwa kerja bakti dilakukan tiap hari.

8. Mengumpulkan orang untuk demonstrasi meminta agar tentara dipertahankan di daerah tersebut dengan alasan karena banyak lalat.

9. Mendesak pemerintah pusat memberlakukan status darurat militer untuk mencegah lalat kembali.

10. Melobi parlemen mengucurkan dana Rp 3 triliun untuk membiayai darurat militer membasmi lalat.

11. Ketika darurat militer hampir habis, mengundang kembali dokter, aktivis lingkungan dan mahasiswa untuk duduk minum kopi dan memerintahkan seekor lalat untuk masuk kembali ke cangkir kopinya. [A]

Mobil Timor
Sebelum Timor Timur merdeka, terjadilah cerita ini. Tapi gak ada hubungannya dengan kemerdekaan Timor Timur. Hanya karena merk mobil Tommy Soeharto ini, sama dengan nama Timor.

Di jalan tol, sebuah mobil Timor mogok. Lalu datang mobil Mercy yang menolong dan menarik mobil itu.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba sebuah BMW berkecepatan tinggi mendahului mobil Mercy tersebut. Si pengemudi Mercy berang dan panas. Lupa bahwa dirinya sedang menarik mobil Timor yang mogok, maka pengemudi Mercy itu menginjak pedal gas dan ngebut sejadinya, berusaha menyusul mobil BMW.

Tentu saja si pengemudi Timor panik bukan kepalang, karena mobilnya sebenarnya tak tahan dibawa ngebut seperti mobil-mobil Eropa. Selain itu, dia juga khawatir akan keselamatannya sendiri.

Si pengemudi Timor itu pun berkali-kali membunyikan klakson. Maksudnya, mengingatkan si pengemudi Mercy bahwa dirinya ikut terseret dengan kecepatan tinggi.

Nah, ketika persitiwa ini terjadi, kebetulan ada kamera televisi yang merekam. Sore harinya di berita sore, televisi itu menyiarkan dan menayangkan gambarnya. Stasiun televisi yang masih milik kerabat Cendana itu, girang bukan kepalang mendapat berita tersebut. Jadilah mereka menurunkan berita dengan bunyi narasi sebagai berikut:

“Saudara, yang Anda saksikan ini adalah gambar yang kami rekam di jalan tol siang tadi. Tampak mobil Mercedez berusaha mengejar BMW yang berlari sangat kencang. Sementara di belakang mereka, mobil Timor yang merupakan mobil nasional, tak henti-hentinya membunyikan klakson meminta jalan kepada kedua mobil Eropa itu. Tayangan ini membuktikan, bahwa mobil Timor yang sebelumnya menimbulkan kontroversi, ternyata memiliki kualitas yang tak kalah dengan mobil Eropa. Tim liputan, melaporkan.” [A]

Bau Membau
Karena terlalu lama berada di daerah konflik, sekelompok serdadu mulai kocar-kacir mental dan disiplinnya. Mereka mulai suka ke tempat-tempat hiburan malam. Saking seringnya, terjadi persaingan di antara para serdadu, siapa yang paling hafal bau-bau para wanita penghibur.

Serdadu A: “Ini pasti bau si Fera!”

Serdadu B: “Hahaha… betul kamu. Kalau dari baumu, kau pasti tadi bersama si Mince.”

Serdadu A: “Hehehe….”

Serdadu C yang risih dengan ulah kawan-kawannya, lalu masuk ke kandang kambing penduduk dan memasukkan tangannya ke dubur binatang itu.

Serdadu C: “Hei, kalian! Coba tebak, ini bau siapa?”

Serdadu A dan Serdadu B segera mencium tangan Serdadu C. Lama mereka berpikir, tak menemukan juga jawabannya. Saking penasarannya, Serdadu A malah menjilati tangan Serdadu C untuk memastikan.

Tapi dia akhirnya menyerah.

Serdadu A: “Nyerah ah… gak tahu punya siapa ini. Pendatang baru ya? Siapa namanya?”

Kondom
Polem adalah seorang teungku, pengasuh sebuah dayah (pondok pesantren) di Gayo Lues. Suatu hari, desa Polem didatangi penyuluhan KB dan penyakit AIDS.

Para penyuluh menerangkan penggunaan alat kontrasepsi, termasuk kondom. Polem terlihat tidak senang dan segera meninggalkan balai desa, pulang ke dayahnya.

Sang Kepala Puskesmas langsung mendekat Pak Kades dan terlibat perbincangan serius. Intinya, mereka akan mengirim teungku lain yang menerima kontrasepsi. Tentu saja untuk hal ini Polem dianggap “ortodoks.”

Seorang teungku didatangkan dari Aceh Tamiang. Dan berbicaralah teungku itu kepada Polem.

“Memang, ada banyak dalih dan hadits yang mempersoalkan penggunaan kondom itu…” kata sang teungku kepada Polem.

“Saya pergi dari balai desa bukan karena hadits. Tapi karena tidak rela, bayi di desa ini nanti lahir dalam keadaan terbungkus plastik!” [A]

Di Sebuah Pesawat
Sebuah pesawat sedang dalam perjalanan Jakarta – Banda Aceh. Di atas Selat Malaka, tiba-tiba pilot mengumumkan bahwa pesawat kelebihan beban.

Seorang Mayjen yang naik pangkat karena memimpin operasi militer, mengambil inisiatif mengatur evakuasi.

“Buang semua barang di bagasi. Kalau masih tidak bisa juga, buang semua barang di kabin!” perintahnya.

Karena datang dari seorang jenderal yang kaya pengalaman perang, awak pesawat pun nurut. Semua barang di bagasi dan kabin dibuang ke luar pesawat. Pesawat pun mulai terbang stabil, tetapi tetap stall dan terbang semakin rendah.

Saat itulah terdengar pengumuman dari pilot; “Pesawat masih kelebihan beban. Mohon semua laki-laki terjun karena kita harus mengutamakan keselamatan perempuan dan anak-anak.”

Tanpa banyak bicara, Polem yang berprofesi sebagai pedagang, langsung membuka pintu darurat dan lompat. Ibu-ibu mendoakan keselamatan Polem, yang entah dapat hidup atau tidak terjun dari pesawat di atas Selat Malaka.

Tak lama kemudian, seorang pemuda yang berprofesi sebagai wartawan langsung melompat dengan ucapan, “Bismillah….”

Disusul seorang dokter, seorang guru, seorang pegawai negeri berpakaian seragam coklat serta seorang prajurit TNI berpangkat Kopral.

Kini, laki-laki di pesawat itu tinggal si mayor jenderal itu. Dia pun melangkah ke depan pintu dan menutup pintu darurat.

Ibu-ibu heran, “Kok Bapak tidak ikut lompat keluar?”

“Kalau saya lompat, lalu siapa yang menutup pintu,” jawab Mayjen itu kalem. [A]

Kelompencapir
Di masa Orde Baru, Polem yang menjadi pemandu wisata terlibat obrolan serius dengan seorang turis asal Amerika.

Turis: “Di Amerika, presiden melakukan debat terbuka dengan lawan politiknya!’

Polem: “Ah, itu sih belum seberapa. Di Indonesia, Presiden Soeharto bahkan berdebat dengan rakyatnya sendiri. Mana berani Presiden AS berdebat dengan rakyatnya sendiri!”

Turis: “Ah, kok saya belum pernah lihat Soeharto begitu?”

Polem: “Nonton aja TVRI. Hampir setiap malam ada acara Kelompencapir (kelompok pendengar, pembaca dan pirsawan). Nah, di situ Presiden Soeharto berdebat dengan petani, buruh dan nelayan. Hebat, kan?” [A]

Aceh dan Madura
Polem dan Senapon yang asal Madura, terlibat perbincangan serius.

Polem: “Di Aceh, Belanda yang membangun rel, Republik Indonesia yang merusakkannya. Sekarang tak ada lagi kereta api yang bisa dipakai. Lalu apa gunanya 58 tahun merdeka?”

Senapon: “Sudah lah, kau harus bersyukur. Di Madura, bahkan Belanda pun tak mau membangun rel kereta api!”

Polem: “Lho, kenapa?”

Senapon: “Takut dikiloin, dijadikan besi tua!”

(Catatan: Di Jakarta, orang Batak dikenal sebagai awak angkutan umum, orang Padang membuka restoran dan orang Madura pengumpul besi tua)

Patung Asmat
Polem dan seorang kawannya yang berasal dari Suku Asmat di Papua, sedang jalan-jalan di Kuta, Bali. Mereka melihat aneka patung ukiran yang sangat menarik para turis asing yang berbelanja.

Polem: “Di Aceh, kami tidak mengenal seni patung. Patung dilarang agama.”

Asmat: “Di Papua, patung kadang justru untuk upacara agama. Tapi yang saya tak habis pikir, orang Bali ini suka menipu. Masa patung sekecil-kecil itu saja dijual mahal. Padahal di Asmat, patung sebesar pohon pun, kadang cuma ditukar dengan garam dan gula. [A]

Keluar dari Anus
Polem yang asal Pidie, baru tiba di Kota Padang.
Karena lapar, ia pun masuk ke salah satu rumah makan.

“Apa makanan special hari ini?” tanya Polem kepada pelayan.

“Hari ini kita ada semur lidah sapi, Pak…”

“Ah, saya tidak suka memakan sesuatu yang keluar dari mulut binatang!”

“Lalu Bapak mau pesan apa?”

“Minta gulai telur rebus saja!”

“Yang itu malah keluar dari anus, Pak…” [A]

Jam di Akhirat
Konon lagi, di akhirat kelak, setiap profesi akan mendapatkan ruangan khusus. Di ruangan itu, akan terpasang jam dinding yang menggambarkan perbuatan mereka. Semakin lambat jam dinding itu berdetak, maka semakin baik lah amal perbuatan orang itu selama menjalani profesinya di dunia.

Polem yang baru tiba di akhirat, diajak jalan-jalan oleh seorang malaikat untuk melihat-lihat ruangan masing-masing profesi itu.

Polem: “Kok yang ini lambat sekali? Hampir-hampir tak bergerak jarum jamnya.”

Malaikat: “Oh, iya. Dia seorang teungku yang disegani. Tak pernah menjual agama demi proyek dari pemerintah.”

Polem: “Kalau yang ini, kok agak cepat?”

Malaikat: “Oh, ini ruangan khusus wartawan. Kadang mereka suka bikin berita yang merugikan masyarakat.”

Polem: “Nah, yang ini kok gak ada jamnya?”

Malaikat: “Nah, ini ruangan gubernur. Jam dindingnya ditaruh di dapur, sebagai kipas angin.” [A]

Kebakaran Hutan
Seorang menteri meninjau lokasi kebakaran hutan. Konon, kebakaran hutan terjadi karena pembukaan lahan yang dibekingi oleh oknum-oknum berbaju hijau yang kerap berbisnis ilegal logging.

Sesampainya di lokasi, Pak Menteri langsung melakukan wawancara dengan penduduk sekitar lokasi.

Menteri: “Apa dampak kebakaran hutan ini bagi kehidupan Anda?

Warga 1: “Asep tebel, Pak.” (maksudnya asap tebal)

Menteri: “Kalau Anda, Bu?”

Warga 2: “Sama, Pak. Asep tebel.”

Sesampainya di Jakarta, Pak Menteri langsung menggelar konferensi pers. Di hadapan para wartawan, menteri itu marah-marah.

Wartawan: “Pak, bagaimana hasil kunjungan ke lokasi kebakaran hutan?”

Menteri: “Saudara memang tukang membesar-besarkan masalah. Betul kata Ibu Presiden. Dulu, waktu kasus TKI di Nunukan Ibu Presiden pernah marah karena saudara telah membesar-besarkan berita. Sekarang, kebakaran hutan, saudara juga membesar-besarkan berita.”

Wartawan: “Maksudnya, Pak?”

Menteri: “Setelah saya melakukan wawancara dengan penduduk di sekitar hutan, mereka bilang bahwa kebakaran ini acceptable, maksudnya, bisa diterima! Saya malah kagum, ternyata sudah banyak warga kita yang bisa berbahasa Inggris. Jadi tolong lah, kalau bikin berita, jangan meresahkan masyarkat. Mereka bilang acceptable… acceptable…”

Wartawan: ???????? [A]

Pahlawan Perang

Polem adalah seorang serdadu yang sudah kenyang ditugaskan di daerah konflik. Oleh tetangganya, Polem dijuluki pahlawan perang. Tapi Polem harus membayar mahal, karena banyak anggota tubuhnya yang sudah palsu akibat luka-luka semasa bertugas di medan tempur. Kaki Polem palsu, tangan palsu dan berbagai anggota tubuh lainnya.

Tapi ada satu kebiasaan Polem yang tak hilang. Yaitu kegemarannya main taruhan. Suatu hari, Polem bertaruh dengan tetangganya, si Robi.

Polem: “Robi, ayo kita bertaruh.”

Robi: “Taruhan apa, Pak Polem?”

Polem: “Saya akan menggigit telinga saya sendiri.”

Robi: “Ah, mana mungkin ada orang bisa menggigit telinga sendiri. Melihat tanpa cermin pun tidak bisa. Apalagi menggigit.”

Polem: “Makanya, taruhan Rp 500 ribu, yuk!”

Robi: “Oke, siapa takut.”

Setelah disepakati, Polem pun melepas telinga palsunya dan menggigit. Robi jelas kesal karena kalah taruhan. Keesokannya, Polem menantang Robi taruhan lagi.

Polem: “Mau taruhan lagi, Rob?”

Robi: “Oke, tapi saya yang pilih jenis taruhannya.”

Polem: “Oke, no problem.”

Robi: “Kalau Pak Polem bisa menggigit mata sendiri, saya bayar Rp 1 juta.”

Robi berani bertaruh seperti itu, karena Polem bisa melihat dengan jelas dan tidak buta. Maka tidak mungkin ia melepas bola matanya. Karena bola mata itu asli.

Tapi dasar Polem si Pahlawan Perang, dia pun tetap nekat.

Polem: “Oke, saya setuju!”

Polem pun segera melepas gigi palsunya, dan menggigitkan gigi itu ke matanya sendiri. [A]

Pengakuan Dosa

Polem sedang menunggui istrinya yang sekarat. Tetapi sebelum istrinya meninggal, Polem masih penasaran dengan sebuah lemari yang selalu terkunci dan kunci itu selalu dibawa istrinya dan dirahasiakan dari Polem.

Polem: “Istriku, sebelum kau pergi, mau kah kau memberitahukan apa isi lemari itu?”

Istri: “Boleh, Bang. Buka aja sendiri. Ini kuncinya.”

Polem pun membuka lemari itu dan menemukan uang Rp 10 juta dan dua bungkus gula. Tentu saja Polem heran, darimana istrinya memperoleh uang sebanyak itu.

Polem: “Darimana kamu mendapat uang ini, istriku? Dan mengapa ada dua bungkus gula di lemari itu?”

Istri: “Oh, maafkan aku Bang Polem. Setiap kali aku berselingkuh, aku menyimpan satu kantong gula.”

Polem: “Oh, baiklah. Aku maafkan. Soalnya aku juga sering berselingkuh. Tapi, kamu belum jawab pertanyaanku, dari mana uang Rp 10 juta itu.”

Istri: “Begini Bang Polem, setiap lemari itu penuh dengan kantong gula, saya menjual gula-gula itu. Nah, uang itulah hasilnya.” [A]

Istri Gubernur

Seorang istri gubernur di salah satu daerah konflik di negeri antah berantah, dikenal ramah dan dermawan oleh warga masyarakat. Setidaknya, dia suka membagi-bagi uang di setiap acara PKK dan semacamnya. Dia pun dikenal cantik dan suka berdandan.

Tetapi tidak bagi para pembantunya. Di rumah, istri gubernur ini dikenal sangat ketus, sinis, tukang main perintah dan sangat tidak santun. Satu lagi, suka memaki. Lain sekali dengan citra yang dibangunnya di luaran.

Suatu hari, si Polem yang menjadi tukang kebun didamprat karena lupa tidak menyiram anggrek.

“Polem! Goblok kamu itu. Masa anggrek dari Thailand itu tidak kamu siram! Dasar tolol!” maki istri Gubernur.

Suatu kali, Polem dianggap kurang bersih mencuci mobil.

“Polem! Dungu kau! Kalau cuci mobil yang bersih dong. Kan malu sama orang. Dasar idiot!”

Polem yang kesal, langsung menjawab; “Lho, bukankah saya dan suami nyonya sama-sama idiot? Kenapa nyonya tidak kawin saja sama saya. Mungkin nanti nyonya bisa sedikit menutupi ke-idiot-an saya di hadapan rakyat.” [A]

Komentar
  1. nandar mengatakan:

    jeh…. mandum cok ata gob… peget kedrolah…

    meuah hai bang…..
    loen kon mantong phon2 that nyan bang….
    galom that meuphom…..
    jino baro jeut bang……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s